Showing posts with label Antariksa. Show all posts
Showing posts with label Antariksa. Show all posts
10 Ledakan Terdasyat & Terbesar Di Alam Semesta

10 Ledakan Terdasyat & Terbesar Di Alam Semesta

1. Pancaran Sinar Gamma

Pancaran sinar gamma adalah paling kuat yang pernah diketahui di alam semesta. Sinar yang memancar dari area yang sangat jauh namun terlihat, adalah GRB 090423, menjangkau “dunia” kita dari kejauhan 13 Milyar tahun cahaya !!!! dari bumi. Ledakan tersebut, yang hanya terekam kurang dari 1 detik, melepaskan energy lebih dari 100 kali energy yang dilepaskan oleh matahari selama 10 Milyar tahun.

2. Supernova

Supernova adalah bintang yang meledak yang seringkali “menyinari” keseluruhan galaksi. Supernova yang paling terang yang pernah di catat dalam sejarah adalah yang dilihat di konstelasi Lupus (bahasa latin untuk srigala) pada musim semi tahun 1006.
Ledakan luar biasa yang berwarna keemasan yang sekarang dikenal sebagai SN 1006 terjadi di hampir 7.100 tahun cahaya jauhnya, dan cukup terang untuk menyebabkan adanya bayangan dimalam hari, dan membaca dimalam hari, dan masih terlihat hingga berbulan-bulan pada siang hari.

3. Ledakan Komet Shoemaker-Levy9

Komet Shoemaker-Levy9 bertabrakan secara spektakuler dengan planet Jupiter pada 1994, gravitasi planet raksasa tersebut menarik komet tersebut dan memecahkan komet tersebut hingga area seluas 3 km, dan mereka menghujam dengan kecepatan 60 km/detik menghasilkan 21 tumbukan yang terlihat.
Tumbukan terbesar menyebabkan bola api hingga setinggi 3000 km diatas awan Jovian dan menyebabkan bintik hitam dengan diameter 12.000 km2 (sekitar sebesar bumi) dan diperkirakan meledak dengan kekuatan 6000 Giga Ton TNT.

4. Tumbukan Cretaceous-Tertiary

Era dinosaurus berakhir dalam bencana alam hamper 65 juta tahun lalu dan membunuh hampir setengah dari semua species di planet ini. Peneliti menyatakan bahwa sebenarnya planet sudah berada dalam ambang kehancuran lingkungan sebelum tumbukan Cretaceous-Tertiary (meteorit). Kawah seluas 180 km di chixulub di mexico mungkin adalah lokasi tumbukan tersebut.

5. Ledakan Gunung Tambora

Pada 1815, Gunung tambora di Indonesia meledak dengan kekuatan hampir 1000 mega ton TNT, merupakan ledakan gunung berapi terdahsyat yang direkam dalam sejarah.
Ledakan tersebut melontarkan 140 Milyar ton magma dan tidak hanya membunuh 71.000 orang di pulau Sumbawa (Dekat Lombok) tapi abu vulkanik yang dilontarkan menyebabkan anomaly iklim secara global, pada tahun selanjutnya (1816), dikenal sebagai tahun tanpa musim panas, salju turun di bulan juni di Albany N.Y, sungai es dapat ditemukan di bulan Juli di Pennsylvania, dan ratusan ribu orang menderita kelaparan secara global.

6.Ledakan Dekat Sungai Podkamennaya Tunguska

Sebuah ledakan misterius dekat sungai Podkamennaya Tunguska di 1908 meratakan area seluas 2000 km2 dari hutan Siberia (hampir seluas kota Tokyo). Peneliti mengira bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh asteroid atau komet, mungkin diameternya sebesar 20m dan seberat 185.000 metric ton (7 kali berat titanic). Ledakan in tercatat  hampir sekuat 4 mega ton TNT (250 kali lebih kuat dari bom Hiroshima).

7. Bom Atom di Trinity site,Alamogordo

Bom atom yang pertama dalam sejarah, di ledakkan di Trinity site, dekat Alamogordo, N.M pada 1945, meledakan denga kekuatan hamper 20kilo ton TNT, ilmuan J. Robert Oppenheimer kemudian mengatakan, ketika dia mengawasi pengujian, Ia memikirkan sebuah petikan dari manuscript hindu Bhagavas Gita : “Saya akan menjadi Kematian, penghancur dunia”, senjata nuklir kemudian mengakhiri PDII dan menyebabkan ketakutan terhadap senjata pemusnah nuklir hingga berpuluh tahun kemudian.
Ilmuwan kemudian menemukan bahwa masyarakat di New Meksiko mungkin terkena radiasi nuklir ribuan kali dari batas normal yang masih bisa ditoleransi oleh tubuh.

8.Nuklir di Chernobly, Ukraina

Pada 1986, sebuah reactor nuklir meledak di Chernobly di ukraina, itu adalah kecelakaan nuklir terburuk dalam sejaran, ledakan tersebut melontarkan rector seberat 2000 ton dan menyebarkan 400 kali kadar radioaktive dibandingkan bom Hiroshima, mengkontaminasi lebih dari 200.000 km2 eropa, 600.000 orang terkena radiasi dosis tinggi, dan lebih dari 350.000 orang harus dievakuasi dari derah yang terkontaminasi.

9.Tabrakan kapal Kargo Perancis

Pada 1917, sebuah kapal kargo prancis, yang berisi penuh dengan bahan peledak untuk PD I, secara tidak sengaja bertabrakan dengan kapal berbendera belgia di pelabuhan Halifax, Kanada. Hal tersebut menyebabkan ledakan dengan dampak yang jauh lebih besar dari peladak yang pernah dibuat oleh manusia sebelumnya, setara dengan 3 kilo ton TNT.
Menyebarkan serbuk berwarna putih hingga 6.100m diatas kota dan menyebabkan Tsunami dengan ketinggian gelombang setara 18 m , hingga radius 2 Km disekitar pusat ledakan. Itu adalah kehancuran total, dan merenggut 2000 nyawa dan 9000 lainnya terluka. Itu tetao menjadi kecelakaan terburuk didunia yang disebabkan peledak buatan manusia.

10. Ledakan di kapal kargo SS Grandcamp

Sebuah kebakaran di kapal kargo SS Grandcamp yang sedang berlabuh di texas city pada 1947 memicu 2.300 ton amoniu nitrat, sebuah campuran yang digunakan untuk penyubur dan berdaya ledak tinggi.
Ledakan tersebut merontokan 2 pesawat terbang yang sedang melintas disekitarnya dan memicu reaksi berantai yang memicu ledakan sebuah kapal kargo lainnya yang juga membawa 1000 ton ammonium nitrat. Bencana ini membunuh lebuh dari 600 orang dan melukai 3.500 lainnya, dan secara umum dikategorikan bancana industry terburuk dalam sejarah U.S

sumber: http://fenz-capri.blogspot.com/2010/09/10-ledakan-terdasyat-terbesar-di-alam.html
Inilah yang Tersembunyi di Balik Bayangan Bulan

Inilah yang Tersembunyi di Balik Bayangan Bulan

detail berita
Kutub Selatan Bulan (foto : Msnbc)
WASHINGTON - Bagian paling menarik dari Bulan serta kerap jadi pertanyaan adalah sisi paling gelapnya yang sulit dilihat. Bagian ini tertutup bayangan permanen, selalu gelap, dan tidak pernah memantulkan cahaya Matahari.

Teleskop dan satelit tidak punya cara untuk membayangkan wilayah di balik bayangan permanen Bulan itu bila menggunakan pencahayaan biasa. Sekarang, para peneliti antariksa telah menggunakan metode yang lebih taktis untuk melihat apa yang tersembunyi di sana.

Dilansir Msnbc, wilayah yang selalu gelap tersebut terletak di kutub Bulan, dan umumnya berada jauh di dalam kawah yang tak dapat dijangkau cahaya Matahari. Para peneliti ternyata menemukan kemungkinan adanya kandungan air beku di sana.

"Ketimbang menggunakan cahaya Matahari yang dipantulkan lurus ke kawah, kami memilih rute tidak langsung," kata co-author penelitian Kurt Retherford, peneliti senior dari Southwest Research Institute di San Antonio.

Untuk melihat wilayah ini, para peneliti menggunakan cahaya yang dipantulkan dari atom hidrogen. Atom hidrogen yang mengambang di seluruh jagad raya tersebut, menyebar ke segala arah, bahkan dapat menjangkau wilayah tersembunyi di balik bayangan Bulan. Data baru yang mereka temukan menunjukkan tertutup bayangan itu memiliki lyman alpha emission yang lebih gelap ketimbang wilayah lainnya.

"Penjelasan terbaik kami tentang perbedaan pantulan di kutub Bulan adalah karena permukaannya lebih gembur dan pulen. Bentuknya seperti bubuk atau sejenis tepung," kata Retherford.

Penyebabnya bisa saja karena partikel kecil air beku bergerak keluar masuk dari butiran lumpur, dan menghasilkan lubang pada butiran-butiran tersebut sehingga menciptakan tekstur yang gembur.

Penelitian tersebut mengindikasikan kehadiran sekira dua persen air pada lumpur di wilayah berbayang, sedangkan pada wilayah yang terkena sinar Matahari hanya 0,5 persen saja.

"Anda akan mengharapkan wilayah yang tertutup bayangan permanen ini, memiliki lebih banyak lagi ketimbang yang telah kita lihat dari luar," tandasnya.

"Suatu hari, ketika astronot pergi ke wilayah ini, kita perlu indra yang lebih tajam untuk merasakan apa yang akan mereka lihat. Pengukuran air yang sebelumnya dilakukan berkaitan dengan air yang jauh di balik permukaan. Namun kami benar-benar berurusan dengan apa yang nampak di permukaan, yaitu akan adanya air yang lebih mudah diakses astronot di masa depan," tambahnya.

Sumber: http://techno.okezone.com/read/2012/01/20/56/560464/inilah-yang-tersembunyi-di-balik-bayangan-bulan
Bumi adalah Jupiter yang Gagal

Bumi adalah Jupiter yang Gagal

 

Planet-planet batuan, termasuk Bumi, sejatinya merupakan planet gas raksasa seperti Jupiter yang gagal terbentuk. Ini berdasarkan teori pembentukan planet terbaru yang diungkapkan oleh Sergei Nayakshin, astronom University of Leicester, seperti diberitakan Space.com.
Teori pembentukan planet yang umumnya dipercaya saat ini adalah akresi inti. Mulanya, ada piringan gas raksasa di sekitar bintang yang baru lahir. Partikel debu pada piringan itu bergabung membentuk objek yang lebih besar disebut planetesimal yang kemudian membentuk struktur yang lebih besar.
Akibat proses itu, massa yang terbentuk pun lebih besar. Pada satu massa tertentu, disebut massa kritis, gravitasi akan menarik massa gas dari piringan yang terdapat di sekitar gumpalan tersebut. Demikianlah, planet batuan kemudian terbentuk dari proses yang panjang dan rumit tersebut.
Teori baru yang diajukan Nayakshin disebut tidal downsizing. Berdasarkan teori ini, gumpalan gas pada awalnya terbentuk di zona yang jauh dari tempat planet umumnya ditemukan sejauh ini. Dalam prosesnya, gumpalan gas mendingin dan menyusut menjadi planet yang masih tergolong massif, sekitar 10 kali ukuran Jupiter.
Selama penyusutan berlangsung, partikel debu yang terdapat dalam piringan gas bergabung menjadi lebih besar dan kemudian "jatuh" ke bagian tengah gumpalan gas, membentuk padatan yang solid di sana. Di sinilah akhirnya terbentuk planet batuan primitif dengan pembungkus gumpalan gas di luarnya.
Peristiwa selanjutnya, piringan gas membawa planet primitif ini mendekati bintangnya. Gas pembungkus planet primitif ini kemudian "dimakan" oleh bintang induknya. Bagian yang "selamat" hanya inti berwujud padat dan sebagian gas, terselamatkan karena massa jenisnya yang tergolong besar.
Proses perampasan gas pembungkus inilah yang kemudian membentuk planet Super Earth atau planet batuan seperti Bumi. Dengan kata lain, Super Earth dan planet batuan pada dasarnya adalah planet gas yang tak memiliki kesempatan untuk tumbuh dewasa karena mekanisme di semesta serta "kejahatan" sang bintang.
Nayakshin menguraikan teori baru pembentukan planet ini di Monthly Notice jurnal Royal Astronomical Society yang terbit Agustus lalu. Ia mengakui, sebagai sebuah teori baru, masih banyak kelemahan yang harus ditutupi dan masih harus diuji. Ia berharap para ilmuwan berkenan mengkaji lebih lanjut teori yang dipaparkannya.
Menanggapi teori Nayakhsin, Aaron Boley dari University of Florida yang melakukan penelitian tentang pembentukan planet gas raksasa mengatakan bahwa proses tidal disruption memungkinkan kehidupan berevolusi pada sistem bintang yang lebih bervariasi. "Ini cara lain alam menciptakan planet," kata Boley. Makin banyak planet, makin besar potensi kehidupan.
Nayakhsin sendiri mengatakan, model akresi inti dan tidal disruption memiliki langkah-langkah fisik yang sama tetapi proporsinya berbeda. "Dalam hal ini, model finalnya mungkin adalah gabungan," katanya. Ia juga menbambahkan bahwa planet batuan yang terbentuk pada proses tidal disruption mungkin berukuran "nol sampai 10 massa Bumi."

Sumber: http://sains.kompas.com/read/2011/09/19/17231867/Bumi.adalah.Jupiter.yang.Gagal
Reaktor Nuklir Kemungkinan Dibangun di Bulan

Reaktor Nuklir Kemungkinan Dibangun di Bulan

SHUTTERSTOCK
— Reaktor nuklir akan dibangun di Bulan dan mungkin juga Mars. Hal ini dikatakan oleh James E Werner, pemimpin proyek pengembangan tersebut, dalam National Meeting & Exposition of the American Chemical Society (ACS) yang berlangsung pada Minggu (28/8/2011).
"Orang tidak akan menyadari keberadaan reaktor nuklir ini nantinya. Reaktornya mungkin hanya selebar 1,5 kaki dan tinggi 2,5 kaki (30 x 60 cm), kurang lebih hanya sebesar tas kopor," kata Werner seperti dikutip Physorg, kemarin.

Lebih lanjut, Werner mengatakan bahwa reaktor nuklir itu tidak memiliki tower pendingin seperti reaktor nuklir di Bumi. Reaktor nuklir terseebut dikatakan aman, terpercaya, dan sangat compact, bisa menjadi pembangkit daya di Bulan, Mars, ataupun tujuan misi lainnya. Reaktor nuklir iru dikembangkan atas kerja sama National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan US Department of Energy (DOE).

Werner sendiri memimpin Idaho National Laboratory yang terlibat dalam proyek ini. Rencananya, reaktor nuklir akan didemonstrasikan pada 2012 mendatang. Jika reaktor ini terwujud maka akan sangat mendukung misi antariksa di masa mendatang. Selama ini dukungan daya untuk misi antariksa bersumber dari sel bahan bakar dan tenaga surya, yang memiliki keterbatasan dalam aplikasinya.

"Perbedaan antara tenaga surya dan tenaga nuklir adalah bahwa tenaga nuklir bisa diaplikasikan di segala kondisi lingkungan. Teknologi fisi tidak tergantung pada cahaya matahari, memungkinkan produksi daya besar pada malam hari di lingkungan seperti Bulan, Mars, atau planet lain," urai Werner.

Werner menambahkan, reaktor nuklir bisa memproduksi daya sekitar 40 KW atau lebih, jumlah yang sama dari energi yang diproduksi oleh 8 reaktor nuklir di Bumi. Keunggulan lain, reaktor bisa bekerja di mana saja, di kawah ataupun di gua.

Menurut Werner, secara umum reaktor angkasa ini memiliki cara kerja yang sama dengan reaktor yang ada di Bumi. Namun, beberapa perbedaan dimiliki, misalnya soal berat. Di angkasa, berat harus seminimal mungkin.
Werner mengatakan, begitu teknologi ini matang dan bisa diaplikasikan, misi antariksa akan sangat terbantu. Eksplorasi ke berbagai penjuru semesta bisa dilakukan tanpa harus memikirkan ketersediaan cahaya Matahari.

Sumber: http://sains.kompas.com/read/2011/08/29/14382359/Reaktor.Nuklir.Mungkin.Dibangun.di.Bulan
Mars, Ternyata Dahulu Memiliki Samudra

Mars, Ternyata Dahulu Memiliki Samudra

NASA/JPL-Caltech/University of Arizona Kawah Rabe yang berwarna biru di Planet Merah. 
 

— Alberto Fairen, pakar astrobiologi di SETI Institute NASA Ames Research Center, dan rekannya menemukan bahwa patahan kerak purba dataran rendah belahan utara Mars lebih minim grup mineral phyllosilicate dibandingkan dataran rendah belahan selatannya. Grup mineral phyllosilicate biasanya didapatkan di sedimen laut Bumi. Penemuan itu memacu ilmuwan untuk berteori bahwa bagian utara Mars dulu merupakan samudra.
"Analisis multidisiplin menjelaskan adanya samudra di Mars masa lalu. Jika ada samudra di Mars masa lalu, maka samudra itu adalah glasial dingin, seperti laut di kutub Bumi. Tepian samudra dibingkai oleh glasier dan samudra tertutupi es," jelas Fairen.
Memberi penjelasan lebih lanjut, keberadaan laut yang dingin dan glasier yang besar akan menghambat pembentukan dan deposit grup mineral phyllosilicate. Hal ini menjadi penjelasan mengapa bagian utara Mars memiliki kandungan grup mineral jenis tersebut lebih sedikit daripada bagian selatan.
Penemuan ini juga bisa menawarkan pandangan baru tentang kondisi Mars di masa lalu. Sebelumnya, ada dua teori tentang iklim Mars masa lalu. Pertama adalah iklim ingin dan kering dan kedua adalah hangat dan basah. Kondisi hangat dan basah menyiratkan bahwa Mars pernah mendapat curah hujan, punya danau, dan sebagainya. Dengan penemuan ini, kondisi Mars masa lalu mungkin bukan seperti yang diteorikan.
"Mars yang dingin dan basah mungkin akan menjadi solusi dari teka-teki yang bertahan selama puluhan tahun ini, dan keberadaan samudra di belahan utara Mars akan sangat pas dengan skenario ini," jelas Fairen seperti dikutip Space.
Untuk memantapkan pandangan ini, ilmuwan kini tengah mencari bukti tambahan bahwa iklim di Mars sesuai yang diteorikan. Mereka menganalisis fitur glasial pantai, mencari tanda-tanda keberadaan gunung es, dan mempersiapkan model geokimia temperatur rendah.

Sumber: http://sains.kompas.com/read/2011/08/29/15200575/Mars.Dahulu.Memiliki.Samudra
Astronom Berhasil Menemukan Planet Berlian

Astronom Berhasil Menemukan Planet Berlian

Ilustrasi Planet berlian dengan pulsarnya
— Astronom berhasil menemukan planet berlian yang terbentuk dari bintang mati. Planet tersebut mengorbit pulsar bernama PSR J1719-1438. Pulsar adalah bintang kecil yang berputar cepat dan mengemisikan gelombang radio. Penemuan planet ini dipublikasikan di jurnal Science, Kamis (8/2011).
Penemuan ini merupakan yang ketiga sejak 1800 di mana didapatkan planet yang mengorbit sebuah pulsar. Hal yang istimewa dari planet ini ialah ukurannya. Maksimal, planet berukuran 40 persen Jupiter. Jika lebih besar, planet pasti sudah masuk di medan gravitasi bintangnya dan musnah sebelum ditemukan. Namun, meski berukuran kecil, planet ini memiliki massa lebih besar dari Jupiter. Hal ini memberi petunjuk akan asal-usul planet yang dipercaya mayoritas memiliki kandungan oksigen dan karbon.
Planet ini ditemukan setelah pulsarnya ditemukan lebih dulu. Pulsar ditemukan pada tahun 2009 oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh Matthew Bailes dari Swinburne University of Technology di Melbourne dengan teleskop Parkes di New South Wales. Sebulan kemudian, tim ilmuwan itu melihat bahwa ada "gangguan" ketika mengamati pulsar, menandakan adanya planet yang mengorbit pulsar tersebut.
Keberadaan planet itu kemudian dikonfirmasi oleh teleskop yang lebih besar di Inggris dan Amerika Serikat. Planet diketahui mengorbit pulsar dengan periode 2 jam 10 menit saja. Jarak antara planet dan pulsar adalah 600.000 km. Diameter planet lebih kurang hanya 60.000 km. Para astronom percaya, planet adalah inti dari bintang besar yang telah mati.

Bagaimana bintang kemudian bisa menjadi planet berlian? Prosesnya sedikit rumit. Seperti yang diuraikan di Space, Kamis (8/2011), pulsar dan planet mulanya adalah 2 bintang yang saling mengorbit di sebuah sistem bintang ganda. Ketika salah satu bintang menua dan meledak, ia menjadi bintang merah raksasa dan kemudian berubah menjadi bintang katai putih.

Planet lain mulai mengisap materi dari planet itu. Planet lain itulah yang menjelma menjadi pulsar PSR J1719-1438. Semakin banyak materi yang diisap, pulsar tersebut berputar semakin cepat. Astronom mengatakan, pulsar bisa berputar 10.000 kali dalam 1 menit sehingga disebut pulsar milidetik. Massa pulsar milidetik alias si PSR J1719-1438 adalah 1,4 kali Matahari dan berdiameter 20 km. Biasanya, bintang katai putih tetap akan mengorbit pulsar, tetapi bisa juga bintang ini "dimakan" olehnya.

Dalam kasus bintang berlian, inti dari katai putih gagal "bersatu" dengan pulsar. "Ketika jarak antara pulsar dan katai putih sangat dekat, katai putih kehilangan banyak materialnya dan terlempar keluar di zona aman dari radius bintang," kata Bailes. Akhirnya, terciptalah planet yang sebenarnya adalah inti dari bintang.

Dari bintang menjadi planet diketahui bahwa jumlah materi yang hilang adalah 99,9 persen. Lalu, apakah planet berlian ini cemerlang layaknya berlian? "Ini sangat spekulatif. Tetapi, jika Anda menyinarinya, saya rasa tak ada alasan bagi planet ini untuk tidak cemerlang seperti berlian," kata Travis Metcalfe dari National Center for Atmospheric Research di Boulder, Colorado. Kabar buruknya, sangat sulit untuk menjangkau planet berlian ini karena berjarak 4.000 tahun cahaya di konstelasi Serpens. 

Sumber: KOMPAS.com
Bumi Sebenarnya Tak Perlu Bulan

Bumi Sebenarnya Tak Perlu Bulan

SHUTTERSTOCK

— Simulasi stabilitas Bumi untuk berputar pada porosnya menunjukkan bahwa sebenarnya Bumi tak perlu Bulan. Dalam artian, tanpa kehadiran Bulan pun, dinamika Bumi tetap stabil sesuai simulasi tersebut.

"Bulan yang besar memang bisa menstabilkan planet. Tapi dalam banyak kasus, hal itu tak dibutuhkan," ungkap Jason Bames, astronom University of Idaho yang melakukan simulasi itu.

Bulan yang relatif besar saja yakni beberapa ratus lebih kecil dibandingkan Bumi tidak terlalu besar pengaruhnya. Bandingkan dengan satelit Phobos milik Mars yang ukurannya 60 juta kali lebih kecil daripada Bulan.

Astronom percaya, efek Bulan pada stabilitas rotasi Bumi tak sebesar yang diperkirakan. Tanpa Bulan, kemiringan Bumi hanya akan berubah sebesar 10 hingga 20 derajat dalam kurun waktu 500 juta tahun.

Perubahan itu memang bisa berdampak pada iklim. Namun, dampak iklim yang ada tak akan terjadi secara luas sehingga tidak mengganggu proses evolusi makhluk hidup.

Astronom pun percaya, Bulan juga tidak dibutuhkan oleh planet lain di semesta yang berpotensi mendukung kehidupan.

Mereka justru percaya, tanpa planet lain seperti Jupiter, perubahan kemiringan Bumi justru akan terjadi secara liar. "Ini karena Jupiter sangat masif," kata Bames seperti dikutip situs Daily Mail.

Hasil simulasi ini berbeda dengan teori yang berkembang. Selama ini dipercaya bahwa tanpa Bulan, kemiringan Bumi akan terus berubah dan perubahan iklim yang besar akan terjadi. Matahari mungkin bersinar di kutub dan mencairkan es sehingga berpengaruh pada evolusi makhluk hidup.

Hasil penelitian Bames dipublikasikan di jurnal Astrobiology Magazine bulan ini.

=

Sumber: KOMPAS.com

10 Fakta Hujan Meteor Perseid

10 Fakta Hujan Meteor Perseid

10 Fakta Hujan Meteor Perseid

Wikimedia Commons

10 Fakta Hujan Meteor Perseid


1. Gerakannya Cepat

Meteoroid Perseid bergerak amat cepat. Kecepatannya mencapai 60 kilometer per jam ketika memasuki atmosfer bumi. Ukurannya rata-rata hanya sebesar butiran pasir meski beberapa ada yang sebesar kacang polong atau kelereng.


2. Benda Langit Besar
Komet Swift-Tuttle, yang serpihannya menciptakan hujan meteor Perseid, merupakan objek terbesar yang diketahui melintas dekat bumi. Intinya memiliki diameter sekitar 9,7 kilometer, setara dengan meteorit yang memusnahkan dinosaurus.


3. Nyaris Menabrak Bumi
Ahli astronomi Brian Marsden pada tahun 90-an pernah memprediksi komet Swift-Tuttle suatu saat akan menabrak bumi. Namun observasi lebih lanjut menepis perkiraan itu. Meski begitu, Marsden menemukan komet itu akan nyaris menabrak bumi (dengan jarak sekitar ribuan mil) pada tahun 3044.


4. Memanaskan udara
Ketika partikel Perseid memasuki atmosfer, ia menekan udara di depannya, sekaligus memanaskannya. Meteor itu sendiri bisa memanas hinggga 1.650 derajat Celsius yang biasanya menguapkan meteor dan menciptakan apa yang kita kenal sebagai bintang jatuh. Sebagian besar tampak di ketinggian 97 kilometer. Meteor-meteor besar pecah dan mengeluarkan percikan yang disebut bola api yang kadang kala disertai ledakan yang bisa didengar dari permukaan tanah.


5. Memiliki Banyak Keluarga
Komet Swift-Tuttle memiliki banyak keluarga komet yang kebanyakan berasal dari awan Oort, yang membentang nyaris setengah jalan ke bintang berikutnya. Sebagian besar tidak bintang tersebut tidak pernah menyambangi tata surya. Namun sebagian kecil komet seperti Swift-Tuttle terdorong menciptakan ke lintasan baru yang kemungkinn disebabkan oleh gravitasi yang telah lama lewat.


6. Banyak Aliran
Meteoroid Perseid terentang luas dalm jarak 60-100 mil, bahkan di bagian paling padat dari sungai serpihan komet Swfit-Tuttle. Seperti aliran lainnya, sungai itu menyimpan endapan setiap kali melintas dalam orbit selama 130 tahunnya mengitari matahari. Meterial-materila itu tertimbun di angkasa dan mengorbit matahari dengan lintasa yang kurang lebih sama dengan lintasan kometnya.


7. Hujan Dinihari
Seiring dengan rotasi bumi, sisi yang mengarah orbitnya mengitari matahari cenderung memperlihatkan lebih banyak serpihan benda angkasa. Oleh sebab itu, Perseid dan hujan mteor lainnya, biasanya paling baik terlihat pada jam-jam dinihari.


8. Terakhir Kali Terlihat
Komet Swift-Tuttle terakhir kali terlihat pada tahun 1992 dimana pada saat itu diperlukan teropong untuk melihatnya. Sebelumnya, komet ini terlihat pada saat pertama kali "ditemukan" oleh ahli astronomi Lewis Swift dan Horace Tuttle pada tahun 1862.


9. Telah Dikenal Sejak Lama
Orbit komet Swift-Tuttle telah diketahui sejak 2.000 tahun dan saat ini diperkirakan sebagai komet yang sama yang diamati pada tahun 188 sebelum masehi dan mungkin pada tahun 69 masehi.


10. Kemuculan Berikutanya
Komet Swift-Tuttle diperkirakan kembali pada tahun 2126. Para ahli astronomi memperkirakan kemunculannya akan mejadi penampakan spektakular yang bisa dilihat dengan mata telanjang, seperti yang terjadi pada komet Hale-Bopp. Dan jika perhitungan sejarah pada poin nomor 9 di atas tepat, penampakan pada tahun 2126 akan menandai perayaan milenium ketiga observasi manusia terhadapnya.



Sumber : national geographic Indonesia

"Gubug Penceng", Penanda Arah Selatan

"Gubug Penceng", Penanda Arah Selatan

- Salah satu rasi bintang yang memiliki arti penting bagi bangsa-bangsa di belahan Bumi selatan adalah Crux yang di Indonesia dikenal dengan sebutan rasi Layang-layang. Jauh sebelum nama Layang-layang dikenal, sejumlah etnis Nusantara mengenal rasi ini sebagai Lintang Gubug Péncéng dan Ikan Pari.

Rasi ini memiliki makna penting karena menjadi penanda arah selatan. Lima bintang terang yang dimilikinya dan bentuknya yang sederhana membuat rasi ini mudah diamati dan diidentifikasi.

Selepas Matahari terbenam selama Agustus ini, rasi Layang-layang terlihat cukup rendah di langit selatan, yakni 10-30 derajat di atas horizon. Rasi ini terlihat di langit malam sejak April-Agustus, tetapi waktu terbaik mengamatinya antara Mei dan Juni.

Peneliti Planetarium Jakarta yang juga Pembina Himpunan Astronom Amatir Jakarta, Widya Sawitar, Kamis (11/8/2011), di Jakarta, mengatakan, meski kemunculan rasi ini menjadi penanda datangnya musim kemarau, fungsi penunjuk arah merupakan yang utama.

Saat rasi ini menghilang dari langit malam pada September, muncul rasi Orion atau Lintang Waluku. Rasi Orion memiliki arti paling penting bagi masyarakat Jawa karena menjadi penanda dimulainya masa bercocok tanam.

Nama Gubug Péncéng berasal dari kisah sejumlah pemuda yang membangun rumah. Di depan rumah yang dibangun, setiap hari lewat seorang perempuan cantik yang akan mengantar makanan ke sawah. Kecantikan perempuan itu mengganggu konsentrasi para pemuda. Alhasil, rumah yang dibangun bentuknya miring alias péncéng (Jawa). Gambaran itu diabadikan menjadi nama rasi Gubug Péncéng.

Perempuan cantik diabadikan sebagai Lintang Wulanjar Ngirim, yang dalam astronomi modern dikenal sebagai bintang Alpha Centauri dan Beta Centauri. Kedua bintang ini merupakan bagian dari rasi Centaurus yang dalam mitologi Yunani dilambangkan dengan kuda berkepala manusia. Sang perempuan diabadikan sebagai Alpha Centauri yang merupakan bintang terdekat dari Bumi setelah Matahari. Adapun selendangnya yang tertiup angin diabadikan sebagai Beta Centauri.

Menurut Widya, sejak kapan masyarakat Jawa mengenal Lintang Gubug Péncéng tidak dapat dipastikan. Namun, semasa pemerintahan Panembahan Senapati dari Kerajaan Mataram yang bertakhta antara 1575 dan 1601, nama rasi ini sudah disebut-sebut dalam sejumlah tembang. "Jika pada masa itu sudah disebut, pengetahuan tentang Lintang Gubug Péncéng dipastikan sudah ada jauh sebelum masa itu," katanya.

Masyarakat Jawa pesisir mengenal Lintang Gubug Péncéng dan Lintang Wulanjar Ngirim sebagai satu kesatuan dan menyebutnya sebagai rasi Ikan Pari. Adapun masyarakat Melayu di Sumatera dan Semenanjung Malaya mengenalnya sebagai Buruj Pari.

Nama Layang-layang untuk Crux baru muncul dalam era Nusantara modern. Tidak ada literatur kuno yang menyebut Crux sebagai Layang-layang.

Salib Selatan

Jika etnis Nusantara mengenal Crux dalam pemahaman masyarakat agraris dan maritim, bangsa Barat mengenal rasi ini dalam pemahaman keagamaan. Mereka menamai Crux sebagai Southern Cross (Salib Selatan).

Mahasiswa program doktoral Jurusan Fisika Universitas Leiden dan peneliti Institut Nasional untuk Fisika Sub-Atomik (Nikhef), Amsterdam, Belanda, Tri L Astraatmadja, mengatakan, bangsa Barat mengenal Crux pada abad XVI saat melakukan perjalanan mencari sumber rempah-rempah. Bentuk Bumi yang bulat membuat bangsa-bangsa Eropa tidak bisa melihat Crux yang posisinya di belahan langit selatan.

"Sistem penamaan bintang atau rasi bintang berkaitan dengan budaya masing-masing masyarakat," katanya.

Negara-negara jajahan Barat di belahan Bumi selatan memasukkan gambar rasi Crux dalam bendera negara mereka untuk menunjukkan keunikan tempat mereka, seperti Australia, Selandia Baru, dan Papua Niugini. Adapun bintang rasi Crux pada bendera Brasil yang merupakan bekas jajahan Portugis melambangkan jumlah negara bagian.

Crux merupakan rasi terkecil di antara 88 rasi bintang di seluruh langit yang ditetapkan batas-batasnya oleh Persatuan Astronom Internasional (IAU) pada 1930. Dalam astronomi, rasi ini tidak memiliki makna khusus. Selain penunjuk arah selatan, fungsinya sama dengan fungsi rasi lain, yaitu mempermudah penentuan medan langit dan penamaan benda langit.

Sejumlah obyek astronomi di sekitar rasi Layang-layang yang banyak menarik astronom adalah Kantung Arang, nebula gelap bahan dasar pembentuk bintang, serta Kotak Berlian, gugus bintang terbuka berusia muda.



Sumber: KOMPAS.com
Mantan Tentara AS Kuak Misteri UFO di Suffolk

Mantan Tentara AS Kuak Misteri UFO di Suffolk

Tampilan UFO di film Independence Day (20th Fox Century)


-- Peristiwa ini dikenal sebagai insiden Roswell ala Inggris: sekelompok prajurit Amerika Serikat yang ditempatkan di Suffok masuk ke dalam hutan untuk menginvestigasi cahaya misterius yang membuat mereka yakin, itu adalah piring terbang mahluk luar angkasa (alien).



Penampakan itu, pada Desember 1980, hingga hari ini masih belum bisa dijelaskan. Insiden ini menjadi kisah UFO (unidentified flyng object) paling menggoda dan menarik di Inggris. Salah satu yang terlibat dalam investigasi itu dikabarkan bahkan menyentuh pesawat alien.



Apa sebenarnya yang terjadi kala itu? Baru saat ini, seorang pria yang memimpin investigasi 'Insiden Hutan Rendlesham''akhirnya berbicara -- setelah tiga puluh tahun diam. Namun, keputusannya untuk buka suara mungkin tidak akan menyenangkan orang-orang yang meyakini keberadaan UFO.



Begini ceritanya:



Pada tahun 1980, Kolonel Angkatan Udara AS, Conrad adalah pemimpin basis pangkalan udara kembar, Woodbridge dan Bentwaters, dekat Ipswich -- yang saat itu diyakini menyimpan senjata nuklir.



Hanya beberapa saat setelah Natal, cahaya misterius terlihat berkali-kali di langit dekat Hutan Rendelsham. Atas laporan anak buahnya , Conrad lantas memutuskan, ia harus terjun, menginvestigasi insiden ini.



Sepanjang hari, ia berada dalam hutan untuk mencari jejak keberadaan cahaya misterius, apakah ada penanda di pepohonan dan tanah -- yang mungkin mengindikasikan adanya pendaratan pesawat.



Menurut Conrad saat itu, tak ada istimewa dari temuannya. Biasa saja. Kendati demikian, saat kembali ke pangkalan ia menunjuk anggota terbaiknya untuk menyelidik hutan di malam hari. Dipersenjatai Geiger -- alat pemantau radiasi ion, kamera, dan perangkat untuk melihat di kegelapan malam, mereka masuk hutan, ke lokasi 'pendaratan'. Karena tak ada yang mencurigakan, mereka memutuskan kembali ke pangkalan. Segelintir lainnya tetap tinggal di lokasi, termasuk wakilnya Letnan Kolonel Charles Halt.



Lalu bagaimana kisah UFO menyebar?



Penyelidikan malam itu diawali penampakan cahaya yang disaksikan para penghuni pangkalan dan istri mereka. Namun karena tak jelas, di langit yang mendung, mereka menganggap itu bukan hal yang mencurigakan.



Namun, Letkol Halt melaporkan insiden itu ke Kementerian Pertahanan dengan mengatakan, apa yang ia lihat 'berasal dari angkasa luar'. Ia juga menuduh AS dan Inggris mencoba untuk menutup-nutupinya. Conrad yang tak merasa melihat sesuatu yang luar biasa, memilih diam saat itu.



Baru sekarang ia memberikan pernyataan ke David Clarke, ahli dari Sheffield Hallam University dan penasehat soal UFO pada Arsip Nasional -- yang minggu ini berencana merilis data Kementerian Pertahanan yang terkait insiden itu.



"Apa yang kami lihat tak sama dengan deskripsi Letkol Halt, baik deskripsi di langit maupun di tanah," kata dia seperti dimuat harian Telegraph. "Kami memiliki orang-orang yang seharusnya bisa mendukung pernyataan Halt, namun tak satu pun dari mereka bisa."



Ditambahkan dia, tak ada bukti kuat bahwa sesuatu yang mencurigakan terhadi. Pemindai radiasi Geiger saat itu menunjukkan, sedikit peningkatan. Namun belakangan dinyatakan normal mengingat lokasi penyelidikan yang dekat pangkalan militer.



Conrad mengaku malu dengan tingkah mantan deputinya yang menyebarkan kabar bohong soal UFO dan menuduh negaranya sendiri menutupinya. Ia juga membantah kesaksian mantan anggotanya, Sersan Jim Penniston yang mengklaim menyentuh pesawat luar angkasa -- merasakan panasnya, bahkan sempat mencatat simbol di badan pesawat itu. Apalagi, ketika menanyai anggotanya saat itu, Conrad tidak mendengar seorang pun pernah menyentuh UFO.



Kata dia, cahaya aneh itu diduga berasal dari bola api atau lampu menara Orford Ness yang berjarak lima mil dari pangkalan. Conrad menuduh, soal UFO adalah tipuan yang disebarkan rekan-rekannya -- termasuk beberapa di antaranya yang memegang posisi penting di militer AS.

Sumber: VIVAnews
NASA Rilis Citra Awal Tabrakan Galaksi

NASA Rilis Citra Awal Tabrakan Galaksi

SPACE.COM Citra tabrakan dua galaksi yang dirilis NASA, bagian atas bagian atas adalah galaksi VV 340 Utara sementara di bagian bawah adalah galaksi VV 340 Selatan.

WASHINGTON, - NASA merilis citra tabrakan antar galaksi Kamis (11/8/2011) lalu. Dalam citra itu, Badan Antariksa Amerika Serikat itu menunjukkan kondisi awal tabrakan antar galaksi yang kemudian membentuk galaksi VV 340 atau Arp 302.

Tampak dalam citra itu sepasang galaksi, bagian atas bagian atas adalah galaksi VV 340 Utara sementara di bagian bawah adalah galaksi VV 340 Selatan. Jutaan tahun kemudian, dua galaksi itu bertabrakan dan akhirnya bersatu, persis seperti yang diprediksikan pada Bimasakti dan Andromeda.

Citra yang ditangkap adalah bagian dari Great Observatories All-Sky Luminous Infrared Galaxy Survey, yang mengombinasikan data Chandra X-Ray, teleskop antariksa Hubble, teleskop infrared luar angkasa Spitzer dan Galaxy Evolution Explorer (GALEX) observatory.

Galaksi VV 340 terletak 450 juta tahun cahaya dari Bumi. Karena bersinar terang dalam hasil pengamatan infrared, maka galaksi ini disebut Luminous Infrared Galaxy.

Analisa citra lebih lanjut dengan Chandra X ray menunjukkan, VV 340 Utara memiliki sebuah lubang hitam supermasif. Ini diperkuat dengan emisi infra merah hasil observasi Spitzer yang juga didominasi oleh VV 340 Utara.

Sementara, Hubble dan GALEX menunjukkan bahwa emisi UV dan gelombang pendek berasal dari VV 340 Selatan. Ini menunjukkan, Vv 340 Selatan punya level pembentukan bintang yang lebih tinggi. Dari hasil analisa, astronom menyimpulkan bahwa pasangan VV 340 berevolusi dengan rate yang berbeda.

Tabrakan antar galaksi biasa terjadi dalam evolusi galaksi. Tabrakan yang terjadi tidak dalam arti yang sebenarnya, tapi lebih pada interaksi gravitasi antar galaksi. Dalam tabrakan galaksi, galaksi yang lebih kecil akan "kalah" dan menjadi bagian dari galaksi yang lebih besar.

Survei yang kemudian menghasilkan citra ini adalah bagian dari upaya astronom untuk memahami, mengapa Luminous Infrared Galaxy mengemisikan banyak radiasi inframerah.

Sumber: KOMPAS.com

Kalung Emas di Luar Angkasa

Kalung Emas di Luar Angkasa

NASA, ESA, and the Hubble Heritage Team (STScI/AURA) Nebula Kalung yang berada pada jarak 15.000 tahun cahaya di konstelasi Sagitta diambil kamera Hubble.

Wide Field Camera 3 pada Teleskop Luar Angkasa Hubble menangkap citra "kalung emas" di luar angkasa pada 2 Juli 2011 lalu. Ini bukan kalung emas dalam makna sebenarnya, melainkan hanya bentuknya yang menyerupai untaian kalung emas. Gambar tersebut merepresentasikan bagian sebuah nebula bernama PN G054.2-03.4 atau Nebula Kalung.

Dalam citra yang ditangkap Hubble, struktur kalung emas di nebula tersebut dibungkus oleh bayangan berwarna yang sebenarnya gas berkerapatan tinggi. Ada tiga macam gas yang terdeteksi, hidrogen (biru), oksigen (hijau), dan nitrogen (merah).

Berdasarkan publikasi NASA, Senin (8/8/2011), diketahui bahwa adanya struktur kalung emas berkaitan dengan sejarah pembentukan nebula. Ini terkait dengan bagaimana bintang yang menua bisa melahap bintang lain di dekatnya dan dampak yang diakibatkannya.

Mulanya, ada dua bintang yang saling mengorbit dengan jarak dekat. Sekitar 10.000 tahun lalu, bintang yang ukurannya lebih besar menua, mengembang, dan melahap bintang lainnya. Meski demikian, bintang yang kecil tetap eksis dan mengorbit "di dalam" bintang besar, meningkatkan kecepatan rotasinya.

Bintang yang lebih besar pun berputar begitu cepat sehingga gas yang menyelimutinya mengembang. Karena adanya gaya sentrifugal, kebanyakan gas "melarikan" diri dari bagian ekuator bintang dan membentuk struktur kalung yang berwarna terang.

Lalu, di manakah pasangan bintang yang disebut-sebut? Dalam citra yang ditangkap Hubble, pasangan bintang tampak sebagai titik kecil berwarna terang di tengah kalung, diselimuti bayangan dominan warna hijau yang sesuai keterangan adalah oksigen.

Pasangan bintang diketahui berjarak sangat dekat, hanya beberapa juta kilometer. Kedua bintang mengorbit satu sama lain begitu cepat dengan periode hanya lebih sedikit dari satu hari. Pasangan bintang dan bagian keseluruhannya, Nebula Kalung, terletak pada jarak 15.000 km di konstelasi Sagitta.

Sumber: KOMPAS.com

Molekul DNA Ditemukan di Meteorit

Molekul DNA Ditemukan di Meteorit

Ilustrasi

- Peneliti Badan Antariksa AS, NASA, menemukan DNA, molekul inti kehidupan, dalam meteorit yang jatuh ke Bumi. Penemuan ini mengindikasikan bahwa benda luar angkasa seperti asteroid pernah menghantam Bumi dan membantu terbentuknya kehidupan.

Molekul DNA tersebut ditemukan pada 12 meteorit, 9 di antaranya berasal dari Antartika. Berdasarkan analisis, ada 2 basa nitrogen, yakni adenin dan guanin, yang terdapat pada meteor tersebut. Ada pula hipoxanthine dan xanthine, molekul yang ditemukan di jaringan otot.

Selain itu, ilmuwan juga menemukan 3 molekul yang berkaitan dengan basa nitrogen, disebut analog basa nitrogen. Namun, dua molekul ini tidak pernah ditemukan dalam biologi atau makhluk hidup. Ini menantang para ilmuwan untuk menguraikan apakah molekul ini terbentuk di antariksa.

Pimpinan penelitian, Michael Callahan mengatakan, "Manusia telah menemukan komponen DNA di meteorit sejak tahun 60an. Tapi, peneliti tidak yakin apakah itu terbentuk di luar angkasa atau hasil kontaminasi kehidupan di Bumi."

Lebih lanjut, seperti dikutip CNN, Kamis (11/8/2011) Callahan menuturkan, "Jika asteroid adalah pabrik kimia yang mengeluarkan material prebiotik, Anda akan mengharapkan mereka memproduksi banyak variasi basa nitrogen, tak cuma yang biologis, terkait dengan kondisi masing-masing asteroid."

Penemuan basa nitrogen yang bervariasi, termasuk yang tak terdapat dalam biologi sesuai dengan harapan. Dengan kontaminasi yang minimal dari sampel meteorit lain, Callahan dan timnya yakin bahwa material yang terdapat pada meteorit ini terbentuk di luar angkasa.

Penemuan ini semakin menguatkan teori bahwa kehidupan di Bumi berasal dari luar angkasa. Hasil penelitian dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, Amerika Serikat. Callahan adalah peneliti di Goddard Space Flight Center, NASA.

Sumber: KOMPAS.com

Bukti Alam Semesta Lebih dari Satu

Bukti Alam Semesta Lebih dari Satu

Citra sisa bintang yang diperkirakan terbentuk saat kelahiran alam semesta.

— Benarkah ada alam semesta selain yang kita diami sekarang? Teori fisika modern membenarkannya. Berdasarkan teori itu, semesta tak cuma satu, dunia adalah dunia yang multiverse. Semesta tempat kita hidup berada dalam sebuah gelembung di mana ada semesta lain yang terdapat di dalamnya. Tabrakan antarsemesta adalah hal yang mungkin terjadi.

Fisikawan dari University College London (UCL) kini mengembangkan cara untuk mendeteksi jejak tabrakan itu. Mereka membuat simulasi langit dengan atau tanpa tabrakan dan mengembangkan algoritma dasar untuk menentukan citra yang sesuai dengan data radiasi gelombang mikro kosmos dari Wilkinson Microwave Aniostropy Probe (WMAP) milik NASA.

Metode yang dikembangkan para ilmuwan itu dipublikasikan di jurnal Physics Review Letters dan Physical Review D yang terbit Juli 2011. Algoritma yang dikembangkan memiliki keampuhan sebab bisa menyelesaikan masalah yang sering dihadapi saat ini dalam mendeteksi jejak tabrakan antarsemesta.

"Semua pola-pola yang didapatkan dalam data acak terlalu mudah untuk diinterpretasikan lebih (seperti klaim penemuan pahatan wajah Mahatma Gandhi di Mars yang ternyata citra gunung). Jadi kami berhati-hati dalam melihat data, seberapa mungkin tanda tabrakan ini cuma kebetulan," kata Daniel Mortlock, ilmuwan UCL yang terlibat penelitian ini.

Mortlock mengatakan, dengan mengembangkan metode untuk mendeteksi tabrakan, teori bahwa dunia terdiri atas banyak semesta bisa dibuktikan atau dibantah. Selama ini, beberapa klaim penemuan jejak tabrakan antarsemesta ada, tapi belum bisa dipastikan bahwa jejak yang dimaksud adalah hasil tabrakan atau hanya noise dalam data.

Seperti dikutip Physorg, Rabu (3/8/2011), Stephen Feeney, pelajar UCL yang terlibat penelitian itu mengungkapkan, "Penelitian ini memberikan kesempatan untuk membuktikan teori yang benar-benar mengejutkan, bahwa kita ada dalam dunia yang multiverse, di mana semesta lain juga eksis di dalamnya."



Sumber: sains.kompas.com

Ilmuwan dapati komposisi matahari yang berbeda

Ilmuwan dapati komposisi matahari yang berbeda

Ilmuwan dapati komposisi matahari yang berbeda
Gambar matahari yang diambil oleh Solar Dynamics Observatory pada 30 Maret 2010.Sekelompok peneliti mendapati komposisi matahari yang berbeda dengan komposisi matahari yang selama ini diketahui. Menurut penelitian mereka, komposisi baru matahari tersebut memiliki karbon dan oksigen lebih sedikit 30 hingga 40 persen dibandingkan dengan komposisi yang telah dikenal selama ini.

Penemuan ini mengakibatkan kontroversi dalam dunia astronomi. Sebabnya, temuan perbedaan komposisi matahari akan membuat kebenaran proses terbentuknya alam semesta dipertanyakan kembali. "Karena jumlah oksigen dan karbon ternyata lebih sedikit, pandangan kita terhadap terbentuknya galaksi harus diubah," kata Lars Koesterke, salah satu peneliti dari Texas Advanced Computing Center yang turut terlibat dalam penelitian. Teori tentang struktur dan evolusi bintang bisa jadi mentah kembali. Proses kelahiran Bumi pun dapat dipertanyakan kembali.

Penelitian dilakukan oleh Carlos Allende Prieto dari Institute of Astrophysics of the Canary Islands (IAC) dan dibantu David Lambert dari Universitas Texas serta Martin Asplund dari Max Plank Institute for Astrophysics.

Penelitian tersebut menggunakan model 3 dimensi--penelitian-penelitian sebelumnya menggunakan model 1 dimensi. "Dengan model 1 dimensi, kita menganggap semua hal statis, beku. Padahal, pada kondisi asli, semua bergerak dan permukaan yang mendidih. Semua itu mengakibatkan perubahan keseimbangan energi," jelas Prieto. Penggunaan model 3 dimensi yang data atom yang selalu baru itulah yang membuat Prieto mendapati spektrum yang menunjukkan jumlah oksigen dan karbon yang lebih rendah ketimbang studi-studi sebelumnya.

Awalnya, temuan ini menuai kritik. Bukti yang disodorkan Prieto dianggap kurang cukup. Lagipula, Prieto menggunakan model yang belum terbukti. Prieto pun terbentur saat mencoba mencari bukti lebih lanjut. Komputer yang ada pada saat itu belum cukup kuat untuk mendukung model 3 dimensi. Tahun 2004, Koesterke dipanggil untuk membantu Prieto. Mereka berhasil membuat sebuah model yang efisien 4 tahun kemudian. Mereka juga mendapat keuntungan karena ternyata teknologi komputer berkembang demikian pesat. "Tiba-tiba, kami punya komputer yang bisa mengukur semua spektrum, suatu hal yang tidak mungkin dilakukan 5 tahun lalu," kata Koesterke.

Sumber:national geographic Indonesia
Mikroba Bumi Lebih Ganas di Luar Angkasa

Mikroba Bumi Lebih Ganas di Luar Angkasa


NASA
Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

- Pertumbuhan mikroflora pada para astronot di luar angkasa lebih cepat. Hal itu dikhawatirkan mengganggu metabolisme jika para astronot berlama-lama di dalam misinya.

Seorang profesor dari Pusat Penyakit Infeksi dan Vaksinologi di The Institute Biodesign, Arizona State University, Amerika Serikat, Cheryl Nickerson, Selasa (26/7/2011), mengatakan, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) perlu mengambil mikroba menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan misi ke luar angkasa.

Perlu pula menentukan obat yang digunakan untuk mencegah resistensi mikroba tersebut. Setidaknya, satu jenis mikroba yang bersifat patogen, yaitu Salmonella sp, diketahui akan lebih ganas di luar angkasa.

Perubahan gaya berat juga mengubah aktivitas jenis mikroba lain. Itu, di antaranya, bakteri Pseudomonas aeruginosa yang bisa mengganggu pernapasan, menunjukkan kemiripan perubahan genetik molekuler Salmonella.

"Penelitian ini setidaknya untuk mendapatkan vaksin yang lebih baik," kata Nickerson.

Sumber:KOMPAS.com
Akhirnya, Oksigen Ditemukan di Angkasa Luar

Akhirnya, Oksigen Ditemukan di Angkasa Luar

Akhirnya Oksigen Ditemukan di Angkasa Luar
Ilustrasi--MI/sa

SALAH satu penelitian terpanjang astronom yakni memburu molekul oksigen di ruang angkasa akhirnya menemui seberkah cahaya terang.

Atom oksigen tunggal telah ditemukan sendiri atau bergabung dengan molekul lain. Namun, molekul oksigen yang biasa kita hirup belum pernah terlihat.

Teleskop ruang angkasa Herschel melihat molekul-molekul di daerah pembentuk bintang pada konstelasi Orion.

Penemuan itu akan diterbitkan dalam Astrophysical Journal. Oksigen adalah unsur paling melimpah ketiga di kosmos, setelah hidrogen dan helium.

Bentuk molekulnya, dengan dua atom bergabung dengan ikatan rangkap, membuat kehidupan di Bumi menjadi mungkin. Sayangnya, bentuk ini tidak pernah secara definitif terlihat di ruang angkasa.

Sebuah upaya sejak 2007 dari teleskop Odin, Swedia, yang diterbitkan dalam jurnal Astronomi dan Astrofisika, mengklaim penemuan oksigen di daerah pembentuk bintang. Tapi, penemuan ini tidak bisa dikonfirmasikan.

Satu lokasi yang mungkin untuk mencari oksigen yang hilang adalah di butiran debu dan air es di angkasa luar.

Tim memilih wilayah pembentuk bintang di konstelasi Orion karena percaya bahwa oksigen akan keluar dari es dan debu di ruang yang harus panas. (bbc.co.uk/OL-5)

Sumber:mediaindonesia.com
Dahulu Kala, Ada Dua Bulan Mengitari Bumi

Dahulu Kala, Ada Dua Bulan Mengitari Bumi

Animasi tabrakan dua bulan menjadi satu bulan (AP/Martin Jutzi and Erik Asphaug, University of California)

VIVAnews - Bulan sejak lama menjadi sumber inspirasi penyair, seniman, atau yang sedang jatuh cinta. Dan kini, beberapa astronom berspekulasi, dulu terdapat dua bulan yang mengitari bumi.

Ke mana perginya si bulan yang satu itu? Para astronom dari Universitas California, Santa Cruz, menyatakan dia melebur ke salah satunya lagi dalam suatu peristiwa yang dinamakan "percikan besar." Hasilnya, bulan yang ada sekarang seperti memiliki dua sisi yang berbeda, satu mulus dan satu lagi penuh tonjolan.

Teori yang dilansir di jurnal Nature pada Rabu 3 Agustus 2011 ini dikemukakan para astronom ketika menemukan ada dua sisi yang berbeda dari bulan. Satu sisi yang menghadap bumi terlihat mulus, sementara sisi yang di baliknya berbukit-bukit. Mereka lalu mereka model komputer untuk menunjukkan mengapa hal itu terjadi. Kejadiannya diduga seperti sebuah kue pie dilempar ke muka. Memercik.

Kejadian ini diduga terjadi sekitar 4,4 miliar tahun yang lalu, jauh sebelum ada kehidupan di Bumi untuk menyaksikan kejadian itu di angkasa. Bulan-bulan ini sendiri masih muda, terbentuk 100 juta tahun sebelum sebuah planet raksasa menubruk Bumi. Kedua bulan ini mengorbit Bumi dan berjalan berurutan.

Satu bulan yang besar berada di depan, berukuran tiga kali lebih lebar dan 25 kali lebih berat dari yang satu lagi. Gravitasi bulan yang besar ini diduga sangat besar sehingga yang kecil tak mampu menahannya. Keduanya semakin mendekat dan lalu terjadilah momen tabrakan itu.

"Mereka ditakdirkan bersatu. Tak ada jalan lain. Percikan besar ini seperti penyatuan dalam kecepatan rendah," kata Erik Asphaug, salah satu astronom peneliti dilansir the Associated Press.

Kecepatan rendah dimaksud Asphaug ini adalah peristiwa terjadi dalam kecepatan 5.000 mil per jam. Namun ini momen yang perlahan sekali sehingga batu-batu angkasa tidak bisa luruh.

Dan karena bulan yang lebih kecil memiliki lebar lebih dari 600 mil, tabrakan ini memakan waktu yang cukup bagi penonton di Bumi melihatnya sambil makan kacang. "Orang akan bosan melihatnya karena butuh waktu 10 menit untuk peluru untuk mencapai bulan," kata Asphaug menyamakan bulan yang kecil dengan peluru.

Batu dan material dari bulan yang kecil kemudian menyebar di permukaan bulan yang besar, bahkan tanpa menghasilkan sebuah kawah seperti yang ditimbulkan dari tubrukan meteor ke permukaan bumi. "Fisikanya benar mengejutkan sama dengan melempar sebuah pie ke wajah," katanya.

Sehari setelah itu, keadaan kembali normal. Bulan tinggal satu, namun salah satu sisinya terlihat berbeda.

Bumi sendiri memang termasuk aneh di tata surya karena hanya memiliki satu bulan. Meski Venus dan Merkurius tak memiliki satu pun, Mars punya dua bulan, Saturnur dan Jupiter memiliki lebih dari 60. Bahkan Pluto yang kecil, memiliki empat bulan.

Teori dua bulan ini jelas ramai diperbincangkan di NASA. H Jay Melosh dari Universitas Purdue menyatakan, "Kami tak menemukan yang salah dengan teori itu."

Ilmuwan Alan Stern yang dulu bekerja di NASA menyebut teori itu "Ide baru yang sangat cerdas" namun tak mudah diuji kebenarannya.

Bulan kedua bukan hanya masalah astronomi. Dia juga berperan di bidang sastra dan lagu. Penyair Todd Davis, profesor sastra di Universitas Negeri Penn menyatakan ide dua bulan — di mana salah satu menelan yang lain — akan menangkap imajinasi sastra.

"Saya mungkin bermimpi mengenai itu dan berusaha menulisnya dalam sebuah puisi," katanya.

Sumber:VIVAnews
Mirip UFO Teronggok di Dasar Laut Baltik

Mirip UFO Teronggok di Dasar Laut Baltik


Peter Lindberg Bentuk melingkat yang terekam radar di dasar Laut Baltik.

— Keberadaan obyek menyerupai piring terbang ditemukan tim eksplorasi bawah laut di Laut Baltik, sebelah timur laut Eropa.

"Bentuknya lingkaran besar berdiameter 20 meter, ada di kedalaman sekitar 100 meter. Posisinya berada di laut antara Finlandia dan Swedia," ujar ketua tim eksplorasi, Peter Lindberg. Tim juga menemukan jejak kehancuran lingkungan di sekitar lokasi penemuan reruntuhan di Teluk Bothnia. Kehancuran lingkungan mungkin terjadi akibat pergerakan mesin di sepanjang dasar lautan.

Temuan tersebut menimbulkan sejumlah spekulasi di kalangan pemerhati fenomena UFO. Surat-surat kabar di Swedia memuatnya sebagai berita utama. Namun, Lindberg sendiri tidak berpendapat benda yang ditemukannya berasal dari luar Bumi. Ia menganggap obyek itu serupa Stonehenge di Inggris.

Temuan obyek misterius di dasar laut bukan baru kali ini terjadi. Formasi batuan "Bimini Road" di perairan Karibia kerap dianggap sebagai jejak jalan dan dinding sebuah peradaban yang tenggelam. Namun, belakangan, para ahli geologi memastikan bahwa bongkahan hanya batuan pantai biasa.

Sumber:KOMPAS.com

Juno Segera ke Yupiter

Juno Segera ke Yupiter

Juno Segera ke Yupiter

NASA/JPL-Caltech

Juno, pesawat ruang angkasa milik NASA, akan memulai perjalanan untuk misi kunjungan ke Yupiter selama lima tahun.

Robot penjelajah seharga 1,1 miliar dolar tersebut akan lepas-landas pada 5 Agustus 2011 dari Launch Complex 41 di Cape Canaveral Air Force Station. Juno akan menjadi salah satu dari tiga misi planetarium yang akan diluncurkan NASA. Juno yang dibuat di Astrotech Space Operations di Titusville akan diterbangkan dengan roket United Launch Alliance Atlas V, pada pukul 11.34 hingga 12.33 siang waktu setempat.

Misi kali ini bertujuan untuk mempelajari pembentukan, evolusi dan struktur planet Yupiter yang merupakan planet terbesar dalam sistem tata surya. Penelitian ini diharapkan menghasilkan petunjuk tentang asal dan evolusi sistem tata surya selama 4,5 miliar tahun silam.

Juno diperkirakan sampai di Yupiter pada 2016, memasuki orbit yang melingkari kutub planet, dan mendekat sejarak 5.000 kilometer dari puncak awannya. Sejumlah peralatan dibawa serta, bertujuan untuk mengukur kadar air dan oksigen dalam atmosfer Yupiter, dan mencari tahu apakah planet tersebut memiliki inti padat.

Selain misi ke Yupiter, September nanti, NASA juga merencanakan peluncuran pesawat ke bulan, dan menjelajahi planet Mars dalam misi Mars Science Laboratory pada November.

Sumber: national geographic Indonesia

Top